fragmen kedua: kisah kita, Jun

by - Agustus 11, 2023


Juna menungguku di Le Bassin de la Villette. Kapal-kapal masih mengambang di tenangnya air danau buatan, sedang beberapa yacht sudah terparkir di dermaga kecil, tertambat pada papan kayu yang ditanami pasak besi. Sebenarnya, kami bisa memilih banyak tempat dibandingkan harus berbaur dengan nyamuk juga beberapa orang mabuk. Ada Le Bastringue, staf-stafnya pandai berbahasa Inggris, tempat makan yang sering kusambangi dengan beberapa pelajar IFA lainnya, atau Le Pavillon des Canaux sembari memandangi pantulan lampu yang berkilau dari danau, dan kami pada akhirnya akan kesulitan mengeja orderan (untuk Juna, tentunya, aku akan membiarkannya merasakan betapa angkuhnya orang Prancis dengan bahasanya). 

“Hei di sini,” Juna melambaikan tangan. Aku berjalan pelan, di tangannya ada kantong jenama fast food 
kesukaanku, Poutine. Kemarahanku satu persatu hilang entah ke mana, mungkin terbawa oleh angin, atau berceceran sepanjang jalan. Hingga akhirnya, ketika campuran wood dan musk memasuki indra penciumanku, kemarahan itu lenyap tak bersisa. Aku tersenyum. Menelan pertanyaan menghardik yang berusaha untuk keluar.

Tidak ada yang memulai percakapan. Yang kami lakukan hanya mengamati orang yang berlalu lalang. Mengeratkan jarak yang perlahan-lahan terkikis. Menghalau dingin yang hadir, dan mencari tempat yang diterangi oleh cahaya, membiarkan warna kekuningan dari lampu jalan menimpa kami.

It’s been a long time, ya, Ru?” Juna memecah keheningan, “di Indonesia kita justru jarang ketemu. Gimana? Udah ketemu Napoleon Bonaparte versimu?” 

Aku tertawa. 
Besar.
Juna mengingat jawaban yang selalu aku gunakan untuk menolaknya, dulu. Hal ini berakar dari satu-satunya orang Prancis yang kukenal dan kaya raya, tapi zaman sudah beralih dari Pertempuran Austerlitz dan Pertempuran Borodino. Dan tak ada Napoleon Bonaparte versiku di Paris. Aku selalu ingat jawaban Juna ketika kutolak: cuma orang-orang kalah yang ingin revolusi, Ru. Jadi aku coba lagi lain kali.

Juna  dan kata menyerah tak pernah ada dalam satu bait. 

“Kamu lama di Bandung.” Aku sebenarnya hendak bertanya, ada perihal apa ia jauh-jauh ke Paris. Ia masih mengingat tempat tinggalku, apartemen yang sama yang kugunakan semasa kuliah dulu. Masih mengingat fast food kesukaanku.  Pun aku melihatnya mengeluarkan sketchbook bersegel keluaran Leuchtturm1917, buku sketsa favoritku. Sepertinya aku tak perlu untuk bertanya.

Ah, begitu mudah kalau aku bersama Juna. 

Namun, aku menyadari hal ini ketika kupandangi Juna dari ekor mataku: Hubungan kami dipenuhi dengan kata lain selain bersama. Hubungan kami memiliki banyak hal-hal ambigu dan hal-hal yang banyak tak kami sampaikan.

Juna menanggapinya dengan tawa dalam. “Papaku bilang di Jakarta aku seperti luntang lantung. Startup-ku jauh lebih berkembang di Bandung. Biaya maintenance-nya juga lebih murah.”
 
Tulang-mu yang patriarkis, fasis, dan skeptis itu masih marah?” Aku menahan tawa.

Sekejap Juna menahan napasnya, “Wah, wah, wah, Tulang Alex pasti takut sama kamu, Ru! Kalo kalian ketemu dan lomba roasting. Aku yakin kamu yang menang.” Juna menggerakkan kakinya, “Masih. Selama aku pilih jalan ini, dia masih kasih petuah dan ngobrol kalau kumpul keluarga.” 

Aku tahu, banyak keraguan yang hadir dalam benak Juna. Begitu gemuruh awan yang kerap sambangi pikirannya hanya ia hadapi sendiri. Sedang, ia repot menyediakan teduh untuk banyak orang.

Hal yang kubenci dari Juna;
Kenapa repot-repot menambal luka milik orang lain, ketika tubuhnya sendiri terkoyak? Kenapa menjadi paling mendengar, ketika ia justru mengabaikan suaranya sendiri?
Kenapa senyumnya terus merekah, sedang menangis justru menjadi jawaban atas semua?

"Karena aku sayang kamu, Ru." Itu jawabannya, kenapa lagi aku harus bertanya?

Juna bukan anak Batak. Ia tak lahir di Toba atau Samosir, apalagi Medan. Malah dia nyasar sampai ke Jakarta. Mamanya disebut penghianat karena menikah bukan sesama Batak dan tanpa tradisi adat Batak seharusnya. Perkawinan kedua orangtuanya diakui oleh negara, tetapi tidak dengan adat.

Lalu, lahirlah Juna yang tak punya marga. Apalagi dengar namanya saja, Juna. Orang Batak lebih suka pakai nama-nama terkenal untuk anak-anaknya–Thomas, Alfa, Edison, Alex–sedangkan satu-satunya orang terkenal dengan nama Juna yang aku tahu cuma Chef Juna. Namun, bukan berarti Juna bebas dengan segala tuntutan yang dibebankan kepadanya. Tulang-nya masih bersikukuh bahwa sepatutnya laki-laki Batak pada umumnya: kalau nggak jadi pengacara, ya jaksa. Sedang Juna justru membangun startup bernama Tabula Rasa. 

Startup? Sejenis manusia muda dan ambisinya?

Lalu, bilang padaku, apa yang lebih sakit daripada mimpi yang diremehkan? Setiap hari, Juna hidup dengan harapan mimpinya akan terwujud. Perlahan-lahan mulai mengumpulkan keberanian. Sedang yang tulang-nya itu lakukan menginjak-injaknya.

Namun, mendengar ucapan Juna barusan membuat beban-beban di pundak terasa berguguran begitu saja. Seperti daun-daun pasca musim gugur di Jardin du Luxembourg. Untuk sesaat, aku merasakan bahwa ada pundak tempatku bersandar. Ada tempat untukku singgah, dan tak payah untuk menuntutku segera pergi. Ada yang sama terlukanya denganku.

Dengan cara yang berbeda.

Dan orang yang terluka mengerti luka orang yang lain.

Seisi dunia tahu: Juna terlalu mengerti, tanpa harus kukirim isyarat atau kujelaskan lagi dan lagi. Apa lagi hal yang lebih baik selain dimengerti?


“Keren.” Kalimat itu terjeda ketika angin dingin menerpa, “Kamu keren, Jun. Alih-alih kamu pergi dan menghindar, kamu pilih untuk hadapi.” Aku menatap barisan kapal yang perlahan lahan menepi, menyisakan beberapa pasangan yang saling bergandengan tangan menyeberang dermaga. Sepi.

“Tapi nggak ada yang salah dari rehat dan menepi, Ru.” 

“Orang-orang menganggapku lari, Jun.” 

“Semua orang bisa miskonsepsi, salah paham, nggak mengerti.” Juna memalingkan tubuhnya, “tapi kamu selalu punya aku, kan. Kamu mau bilang bumi itu datar atau climate change nggak nyata juga aku percaya, Ru.” 

Tatapan Juna barusan: aman, nyaman, dan teduh. Seperti kamar yang hangat tempatku meringkuk. Seperti bantal yang menyangga semua sedih, menimangku hingga tidur, membawaku lari dari kenyataan meski sebentar.

“Jangan gila!” Terbahak-bahak, keras. Aku memukul punggung Juna, “memangnya, setelah sekian lama kamu masih suka aku, Jun?” Dasar bibir! Kata-kata itu meluncur tanpa ada rem, blong. 

Ada jeda lama. Aku merutuki diriku sendiri. Sedang Juna mungkin terlihat kikuk dan bingung. 

“Eh–Jun, maksud aku–,” sialnya aku tergagap. Dan alih-alih mencairkan suasana, aku melihatnya tambah tegang. 

Juna tertawa keras. “Masih! Masih perlu bukti?” Juna berdiri, merentangkan kedua tangannya. “Coba bilang, asal nggak nyuruh aku bugil aja.” 

Juna… Aku tak menjawabnya, hanya tersenyum dan menggerakkan bola mataku seolah berpikir.

“Masak bugil? Beneran?” tanyanya dengan mata melebar. Pupilnya berdilatasi beberapa senti.

Aku kembali rasakan hangat bersemai di pipiku. Membiarkan semu itu lebih lama hadir di wajah, seperti saat ku teguk vin chaud pertamaku. Bagi Juna, menyatakan cinta padaku semudah melafalkan abjad. 

Aku tahu. Juna tahu. 
Kenapa masih saja ditanyakan? 

“Nginap di mana?” tanyaku mengalihkan topik obrolan.

“Djakarta Bali.” Djakarta Bali, salah satu restoran tak jauh dari Louvre, Rue de Rivoli. Surganya masakan Indonesia, meski bisa aku bilang, masih ada banyak restoran Indonesia yang lebih baik dari tempat itu. 




“Lagi? Kenapa nggak sewa hotel atau rbnb aja?” 

“Kalau Achille sama Asmara nggak maksa, aku nggak bakalan nginep di rumah mereka, Ru.”

“Bukan karena peak season dan kamu nggak dapet hotel, kan?” Jangan-jangan ia kembali datang berbekalkan satu ransel–menyesakkan satu celana ganti, dan banyak dalaman, serta satu polo dan satu kaus tidur–visa schengen yang tinggal sisa beberapa hari, dompet, dan … aku menatap sepatu yang ia gunakan. Untungnya bukan sandal jepit seperti kedatangannya yang terakhir. Sewaktu aku sakit tipes mengerjakan thesis yang tak kunjung usai.

Aku tahu dia berbohong.

Aku memandangi Juna lamat-lamat. Dilatarbelakangi dengan perdebatan panjang dua orang di sisi jembatan, semut yang berderet di pohon oak, juga detik yang terus dihitung mundur. Menunggu jawaban. 

Aku tahu dia lagi-lagi berbohong.

“Jun? Please, we have already talked about it.” 

I just want to check on you, Ru.” Juna terlihat… resah. Akhirnya memuntahkan kejujuran.

Sedetik kemudian, ada hening panjang yang melingkupi. Kita berbicara lewat tatapan mata.

Then tell me, when Marvello comes and he says that you have been gone. Just with one damn letter, you decided to leave. I just can’t see you suffering… It hurts me, so much.

Why you even did that?" Suaranya bergetar, di dalamnya mengendap rasa sakit... juga kesedihan.

Pukul dua belas lewat empat puluh lima menit. 

And I can't just sit there. Menerka-nerka kamu pergi ke mana. Ketika satu-satunya orang yang tahu tempat tinggalmu, kode pos dan weselmu, cerita-ceritamu yang hilang selama dua tahun ini adalah aku.” 

Jantungku berdegup kencang. Rasanya seluruh tubuhku ikut bergetar. Aku menengok ke atas, samping, kanan, dan kiri. Tak dapat dideskripsikan, sulit digambarkan.

Not even Marvello.
Not even your family.
Or Vara.
Only me.” 

Aku melihat Juna, kedua matanya yang mengelas, sudah tumpah dari tadi. 

“When I love you, so much. Until everything is alright for me. Even if you are not beside me, as long as you are happy. It’s enough.”  

Sejauh yang dapat kuingat, aku merasakan Juna memelukku setelahnya. Dan perasaan itu…


Seperti segelas coklat yang aku sesap ketika lelah setelah seharian bekerja. 

Seperti Paris di pagi hari, dan cahaya matahari mencoba menyusup melalui kisi dan membuat gurat-gurat cantik.

Seperti bait-bait puisi milik Jacques Prévert, Les Feuilles mortes. 

Seperti rumah.

Entah mengapa, aku hanya ingin membalas pelukan Juna, di pengakuan cintanya yang mungkin sudah keseribu kali ini.


You May Also Like

0 komentar