fragmen pertama

by - Agustus 06, 2023


Permintaan maaf ini tak adil untuk Marvello, dan tak pantas kuucapkan. 


Sepeda ini terus kukayuh. 


Notre Dame tertinggal di belakang, semakin lama semakin mengecil ketika sepedaku terus menyusuri Chanoinesse, berkelok menuju d’Arcole. Seharusnya kupilih metro atau bus, alih-alih menyewa sepeda dari aplikasi Vélib dan berdesakan di padatnya jalanan kota ini. Namun, aku memang membutuhkan distraksi: Sengaja kupilih rute lebih jauh– Holy Chapel dan ribuan jendela kaca warna warni bersebelahan dengan Palais de Justice terlihat begitu indah sekaligus mencekam–ku sambangi gereja yang lebih kecil lagi, Saint Julien le Pauvre, dan terus hingga tiba di Panthéon, sebuah pemakaman untuk lebih dari tujuh puluh orang berpengaruh di Prancis. 


Gereja dan pemakaman. Mungkin aku mencari pengampunan, mungkin juga aku mencari kesibukan dengan mengingat mereka yang telah mati. Aku pandangi nisan milik Jean Jacques Rousseau yang berdiri di sebelah milik Dumas dan Emile Zola, kemudian beralih dengan nisan batu berbentuk cawan putih besar di atasnya itu milik Jean Pierre. Sudah mati, dipagari, dilabeli dengan tiket masuk, dan masih tetap jadi bahan tontonan. Orang-orang masih begitu tertarik untuk melihatnya. Mungkin sama seperti hubunganku. Satu melupakan mati-matian untuk terus hidup barang sehari ke depan, sedang satu yang lain berusaha untuk mengenangnya. 


Perasaan bersalah itu terus menggerogoti diriku. Seperti hantu-hantu yang bersembunyi di antara tiang-tiang tinggi bangunan ini, seperti hujan di bulan kering dan membuat kuyup seluruh tubuh, seperti baguette keras hari kemarin yang kutelan tanpa kondimen. Hujan turun ketika aku keluar dari Panthèon. Awan-awan menggantung kelabu sejenak singgah di antara pucuk-pucuk gedung medieval tinggi, mungkin karena benar cuaca memang tak bisa diprediksi. Kota Paris persis seperti apa yang Victor Hugo bilang dalam bukunya. Respirer Paris, cela conserve l'âme. Breathe Paris in, it nourishes the soul. Tapi yang tersisa di udara Paris adalah penyesalan. Penyesalan, perasaan bersalah, egois, bagian hati yang berhamburan, berceceran, dan menunggu dipungut. 


Tempat ini cukup jauh dari apartemenku yang ada di Thionville dan masih tak ada tanda-tanda aku akan pulang. Lebih dari pukul tujuh, meskipun matahari masih bertengger di langit barat. Pada bulan kering seperti sekarang, senja baru akan hadir setelah lepas sembilan. Mungkin jika tak ada di tempat ini, aku akan menghabiskan waktuku di tempat lain, dengan isi kepala yang sama–pulang, menetap, minta maaf, melupakan, takut dilupakan, hilang, pergi–dan terus begitu hingga kupikir distraksi adalah sedative yang dibutuhkan agar tetap waras. Maka, aku akan berdiri di tempat ini cukup lama, mengayuh sepeda, hingga kakiku pegal-pegal, semua rasa sakit beralih di kaki, dan pulang dengan tram yang masih beroperasi hingga pukul dua malam nanti. 


Pada tram yang akhirnya mengantarku pulang, aku melihat bayanganku yang bertindihan dengan bangunan di sepanjang ruas jalan, juga dengan bulir-bulir air kekuningan yang mengenai kaca, memecah menjadi butiran lain yang lebih kecil, dan memantulkan cahaya kekuningan, dibiaskan. Aku diam, kemudian menatap bangunan yang berlalu di sisiku, satu persatu semua meninggalkanku. Atau justru aku yang meninggalkan mereka? Padahal aku tak ke mana-mana.


Apartemen ini, yang enggan kusebut sebagai rumah, tak banyak berbeda dari tempat yang kutinggali di Jakarta. Hanya mungkin ukuranya yang lebih kecil, tanpa lift, tanpa wallpaper biru, tanpa tanaman english ivy yang merambat, tanpa banyak bilik. Sedang keenganan menyebutnya sebagai rumah bersumber dari satu ucapan: rumah adalah di mana ada seseorang menunggumu pulang. Lalu, kubilang saja di rumah ini tidak ada kucing-kucingku, tidak ada Mba Suti, tidak ada Vara, mungkin juga Ko Iwin, jika ia masuk hitungan, dan yang terpenting: tidak ada Marvello. Apartemen ini jelas bukan rumah. 





Kususun keping demi keping, bayangan akan rumah itu hancur di kepalaku. Tak lagi berdiri tegap. Yang tersisa tinggal puing-puing, mungkin atap berserakan, sedang tembok hancur dan bolong-bolong. Tetapi, betul adanya: rasa sakit perlu diantisipasi. Seperti ruangan kecil yang ada di bawah tangga, tempat menyimpan segalanya yang tersisihkan, tidak lagi dipakai, atau tidak berguna, atau yang berguna namun tak sampai hati aku untuk melihatnya: perasaanku, mimpiku, rencana-rencanaku dahulu.


Aku membuka pintu, ada Celiné yang masih berkutat dengan tumpukan kardus kepindahanku, yang sudah dua minggu bahkan tak dikeluarkan dari tempatnya. Seolah aku bersiap untuk pergi, kapan saja. 


“Ada yang mencarimu tadi.” 


Aku mematung. 


“Siapa?” 


“Laki-laki,” Celiné menjawabnya dengan tenang. “Yang pernah kau tunjukkan fotonya di ponselmu.” Mata kita bertemu, Celiné beranjak dan memberikan secarik kertas. “Dia pergi lima belas menit yang lalu.” 


Kubaca kalimat itu pelan-pelan.

‘Jangan pergi lagi’






You May Also Like

0 komentar